Jumat, 26 Desember 2008

Catatan Perjalanan

Pertemuan. Itulah awal dari semua catatan ini. Pertemuan yang tak pernah diduga sebelumnya dan lewat-lewat kata-kata dari luncurkan huruf-huruf, sebuah jalinan yang dinamakan persahabatan dimulai. Sebuah perjalanan yang tak nyata selalu menjadi bayang permainan yang indah yang akhirnya mempertemukan semuanya pada kenyataan.

Persahabatan itu dimulai dengan sebuah penjawatan yang baik. Tak pernah mengenal status, usia, gender, atau apapun yang biasanya menjadi batasan dalam penjalinan yang indah. Yang menjadi batasan adalah ruang lingkup pertemuan dan waktu yang rasanya tak cukup hanya 24 jam dalam sehari untuk saling bertegur sapa dan bercanda.

Dan kitapun dipertemukan dalam sebuah ruangan. Ruang yang akhirnya membuat kita menjadi memiliki dan berkaitan. Ruang yang akhirnya menjadikan sebuah kenyataan. Dan ruang itu dinamakan "Ruang Maya".

Siapa yang tak kenal ruang itu? Pada saat ini, anda sedang terjerumus dalam ruang itu.

***

Jakarta. 26 Desember 2008. Masih terjebak dalam kesibukannya. Seharusnya Jakarta tak perlu sesibuk ini pada hari menjelang tutup tahun. Seharusnya masyarakatnya berduduk santai dan jalanan di Jakarta seharusnya kosong pada hari itu.

Tetapi, seharusnya sadar, bahwa Jakarta telah mengandung status ibukota. Mana ada seorang ibu yang tak pernah sibuk dalam segala hal? Ibu adalah sosok yang paling sibuk dalam segala hal dan yang tak pernah berhenti dalam mengurus segalanya. Maka adalah hal yang wajar jika menjelang ganti tahun, Jakarta masih saja sibuk mengurus semua ini.

Dan di Jakarta itu pula, sebuah persahabatan maya menjadi nyata.

***

Sebuah ekspetasi saya mengenai pengenalan seorang teman rasanya dibutuhkan. Nasihat dari sudut manapun mengatakan "Bersahabatlah dengan baik..." atau "Jadilah teman yang baik." telah saya camkan jauh sebelum membentuk sebuah komunitas.

Dan lagi - lagi saya terjebak. Dalam sebuah ruang di dalam ruang maya.

Dan ruang itu bernama Multiply.

Dua orang terjebak di sini, entahlah dengan yang satu lagi. Apa merasa terjebak?

Setelah saya terjebak di sini, lagi - lagi saya terjebak dalam keindahan persahabatan yang berbatas ruang, jarak, dan waktu. Entah bagaimana caranya bisa bergelut dalam persahabatan ini, saya pun masih tercengang dengan penjebakan ini.

Dan... dari banyaknya sahabat yang saya jumpai di ruang dalam ruang itu, pada akhirnya membentuk sebuah persahabatan yang erat. Dalam beberapa bulan saja, saya yang menjadi korban penjebakan tanpa tersangka ini menjalin hubungan erat. Dua orang yang akhirnya menarik saya untuk masuk ke dunianya.

Dikenal dengan nama Henny Poerwanti. Saya mengenalnya dari seorang kontak saya yang akhirnya membuat saya berhubungan teman dengannya. Sama-sama penggemar ngalor ngadul. Sama-sama tukang iseng. Sama-sama tukang bercanda. Hal - hal itulah yang membuat kita terjebak di sana.

Dan yang satu lagi dikenal dengan nama Rike Jokanan. Saya mengenalnya dari perkenalan dirinya sendiri. Betapa anehnya dunia maya ini, bukan? Mempertemukan semua orang dari segala macam bentuk dan cara. Menurut pengakuannya, wanita ini mengenal saya dan tertarik pada saya setelah membaca komentar yang saya berikan kepada seseorang yang juga kontak saya. Sama-sama hobi membaca. Sama-sama hobi serius. (Hobikah ini?) Dan sama-sama hobi menulis puisi.

Tapi apa kesamaan hobi dua orang di atas? Saya tak tahu...

***
Jakarta masih menampakkan siangnya. Dan Jakarta pula mempertemukan ketiga seorang yang berbeda batas waktu dan jarak itu.

Aveline Agrippina, Henny Poerwanti, dan Rike Jokanan dipertemukan di Ibukota Indonesia. 26 Desember 2008. 5 hari menjelang akhir tahun 2008. Dan pertemuan itu berakhir manis. Dengan hobi - hobi kita yang berbeda dan berbagai karakter yang ada, tetap saja semuanya serasa manis.

Pembicaraan awal, tentu saja penjebakan di ruang maya itu tersendiri. Sejak kapan mulai mengeksiskan diri di dunia maya, apa saja hal-hal yang buruk yang pernah terjadi, membicarakan tentang hobi kita, dan tentunya masih ada selingan ledek-meledek.

Pesahabatan maya itupun menjadi nyata...

Pertemuan yang telah direncanakan amat jauh. Dan yang paling tak tahan akan hari pertemuan itu adalah yang paling tua. (Siapakah yang paling tua itu? -Rasanya tak perlu jawaban untuk hal itu.-) Setiap kali bertemu dengan saya melalui telepon, SMS, di Facebook, ataupun di Yahoo! Messenger, tetaplah yang jadi bahan pembicaraannya adalah pertemuan.

Kadang bahan bibir itu membuat saya tertawa sendiri, mengapa masih ada orang yang ingin bertemu manusia semisterius seperti saya? Tak takutkah dia kalau ketika melihat saya akan saya terkam?

Sebuah tempat menjadi pertemuannya. Dan sebuah tempat juga yang menyatukan kami bertiga. Sebuah tempat yang menyatukan persahabatan maya menjadi nyata.

Dan Jakarta masih menampakkan siangnya untuk menuju pada sorenya. Sayang, saya harus menarik diri dari kebahagiaan sekaligus kado akhir tahun yang manis ini untuk saya.


Untuk sebuah pertemanan tiada akhir...
Terlontar dua kata...
Terima kasih...




Aveline Agrippina T
Makhluk yang sering dibilang misterius itu...



PS: Untuk yang merasa namanya tercantum di atas, manusia misterius ini mengucapkan terima kasih yang besar untuk kenang-kenangannya. Friendship never be die, but still alive and forever

SEBUAH KISAH KLASIK - SHEILA ON 7


Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan
Sampai jumpa kawanku
S'moga kita selalu
Menjadi sebuah kisah klasik untuk masa depan

Bersenang-senanglah
Kar'na hari ini yang 'kan kita rindukan
Di hari nanti...

Tidak ada komentar: