Selasa, 10 Maret 2009

Kidung Hujan



Hujan, menarilah dalam titik - titik air, mengangkasalah ketika belum turun sampai ke bumi. Jadilah air yang menyejukkan untuk bumi. Jangan lekas berakhir, bawalah tetes - tetes dingin yang melembutkan hati, mendinginkan tubuh setelah penat bertanding melawan waktu.

Hujan, turunlah dan merontoklah dari kaki - kaki langit, biarlah jadi basah seluruh bumi. Lepaskan dahaga dunia setelah mentari memenangkan pertandingan melawanmu. Biarlah ketika malam menjadi selimut langit, engkau senantiasa menjaga dunia dengan rintikanmu.



Hari yang hujan, 10 Maret 2009 | 7.54 PM
A. A. - dalam sebuah inisial

Jumat, 06 Maret 2009

30 Mei 2009

Mungkin adalah sebuah tujuanmu untuk bergegas ke dunia sana. Dan saya pun tahu mengenai itu semua. Kamu boleh menyapa dirimu sepanjang harimu yang tersisa di dunia sini. Namun ketika kamu tak lagi di sini, aku selalu yakin kamu akan menemukan tempatmu yang lebih membahagiakan. Tapi tak sebahagia di sini.

Ya, saya akan mengantar teman saya ke belahan dunia lain. 30 Mei 2009. Dia akan menemukan tempat lainnya. Berjumpa dengan kedua orang tuanya yang menantinya di sana. Mungkin dia yang akan berbahagia di sana. Namun saya selalu mengatakan dengan ejekan untuknya. "Suatu hari nanti, dirimu bakal mencariku lagi yang ada di sini."

Dan akhirnya kau hanya akan mengenang semua itu lewat hasil cetak sebuah lensa negatif

Saya tak mengerti mengapa di dunia ini harus ada yang namanya perpisahan. Dan perpisahanlah yang selalu menjadi cikal bakal seseorang untuk berduka. Untuk apa ada pertemuan ketika semua harus dipisahkan dengan perpisahan? Bukankah semua itu menjadi sebuah kesia-siaan dengan apa yang kita isap sari-sarinya?

"Hei... lo bakal ke Amrik (Amerika Serikat), kan?" tanyaku suatu hari ketika sedang sibuk mengerjakan majalah dinding.
"Sialan! Tahu dari mana lo?"
"Evander bilang sewaktu SMS lo sampai ke Vini."
"Sialan! Ember banget si Evander."

Saya langsung tertawa. Namun saya langsung bertanya - tanya untuk apa kamu menyimpan semua rahasiamu mengenai kepergianmu? Untuk apa? Toh, pada akhirnya semua orang juga akan tahu kamu akan berlari dari dunia ini dan ke dunia sana.

Sanjaya Pratama
. Saya menuliskan ini untukmu dengan penuh rasa persahabatan sebelum kamu berangkat ke Amerika. Berjumpa dengan keluargamu di bumi yang baru. Menjumpai nuansa baru. Menjumpai segalanya yang baru. Termasuk teman - teman yang baru. Termasuk guru - guru yang baru. Termasuk apapun yang baru. Adanya yang tak ada di dunia ini akan kau temui di duniamu yang baru.

Mungkin ketika kamu membaca tulisanku ini, kamu akan tertawa. Untuk apa aku menuliskan kepergianmu? Sebelum tawa itu menjadi tangis perpisahan, ada kala baiknya kita menerima kehilangan dulu sebelum kehilangan yang nyata datang kepada kita sehingga semua yang kita jalani sebelumnya akan menjadi keringanan di masa mendatang.

Untuk suaramu yang belum mengadahkan kehilangan, memang terlalu dini untuk menuliskan semua ini. Masih dua bulan lagi kamu berangkat. Ya, aku tahu semua itu. Tapi tidakkah kamu tahu bahwa menyembuhkan luka kepergianmu lebih dini semakin baik dibanding ketika kamu mengucapkan "selamat tinggal" semenit sebelum keberangkatanmu? Itu menyakitkan!

Saat ini kamu boleh tertawa. Tertawa bahwa dunia yang sampai saat ini kita pijaki (dan yang akan kamu tinggalkan) adalah sebuah dunia yang penuh humor. Humor yang sama sekali tak bisa dilogikakan. Banyak yang miskin. Banyak yang kaya. Banyak yang tampan. Banyak yang jelek. Apapun ada di dunia yang ini.

Dan dua bulan kemudian, ketika kamu menginjakkan kaki di duniamu yang baru, menghirup oksigen di dunia yang baru, tak akan ada yang benar - benar sama seperti di dunia ini.

Setidaknya kita pernah bertemu. Berjabat tangan. Bertegur sapa. Bertatap muka. Berdiskusi. Bercanda. Lalu melambaikan tangan melambangkan perpisahan.

Sebelum kamu bertanya untuk apa saya menuliskan semua ini, ada baiknya saya menjawab dulu sebelum pertanyaan diluncurkan. Saya menulis ini sebagai rasa pertemanan saya. Rasa persahabatan saya denganmu, dengan teman - teman di kelas saya yang baru. Saya menemukan sesuatu yang baru di tahun yang baru. Saya menemukan sukacita yang baru di tahun yang baru. Saya menemukan dukacita yang baru di tahun yang baru.

Setidaknya tulisan ini menjadi pengingat saya bahwa saya pernah menemui orang yang mau berteman dengan saya. Menjadikan sebuah benih pertemanan menjadi pohon persahabatan. Dan pada akhirnya kita jua yang akan memetik buah hasil panen pohon itu. Kita juga yang akan mencicipi rasa buahnya. Entah manis atau asam.

Tulisan ini dibentuk dengan jutaan rasa yang tak bisa saya katakan. Semua yang telah kita lakoni dan apresiasikan pada bumi ini akan berbaur menjadi satu, kenangan. Simpan semua tawa, canda, ejek, iseng, marah, egois, dan semuanya yang pernah bumi ini tahu dan disaksikannya.

Sekarang silahkan kamu tertawa sepuasmu, namun ketika kamu berada di belahan dunia yang baru, kamu akan memetik hasilnya.

Nah, Sanjaya, aku sebagai temanmu mengucapkan selamat jalan. Mengucapkan terima kasih untuk semua kebaikan yang pernah kamu berikan. Juga aku mengucapkan kata maaf ketika aku khilaf untuk berbuat sesuatu yang tak seharusnya menurutmu.

Selamat datang di duniamu yang baru! Selamat mengenang bumimu yang ini dari kejauhan sana!

Kita akan berjumpa lagi di mana dan kapan, aku tak pernah tahu.



A.A. - dalam sebuah inisial
Jumat, 6 Maret 2009

Senin, 02 Maret 2009

Apa yang Kalian Tujukan pada Hidup Ini?


"Kehidupan menjadi sangat sulit dan rumit kalau kita membiarkan diri kita berlari terus ke tempat tujuan. Lupa bahwa hari ini, di tempat ini, dengan badan yang ini, plus jumlah rejeki hari ini, juga menghadirkan 'tujuan-tujuan' besar yang tidak kalah menariknya." - Gede Prama

Orang bilang kalau hidup itu harus punya arah, punya tujuan yang baik. Lantas, apa semuanya harus diraih dengan mudah? Saya selalu bertanya pada hidup tentang apa yang hendak saya gapai pada waktu berikutnya. Entah satu menit lagi, satu hari lagi, atau satu tahun lagi.

Saya tak pernah lupa dengan apa yang dikatakan oleh teman saya,"cita-citamu adalah tujuan hidupmu, maka gapailah!" Sejak kecil, saya sudah memiliki beberapa cita-cita, namun beranjak tua, saya semakin sadar bahwa saya adalah orang yang egois. Egois untuk memperebutkan cita-cita itu semua. Saya berjuang mati-matian.

Benar! Saya berjuang mati-matian. Sewaktu SMP, di sekolah saya ada kelas unggulan. Nah, orang lain mungkin tak pernah tertuju untuk masuk ke dalamnya. Tetapi dari ratusan siswa di sana, ada seseorang yang berjuang untuk masuk ke sana. Berjuang agar tak tersingkir dari mereka yang tak sepenuhnya berjuang.

Akhir cerita, sayalah orang itu. Dan saya yang menembus sebuah tiket untuk saya sendiri. Tiket kursi di kelas itu. Kelas eksklusif. Masuk di sana juga saya berjuang mati-matian. Saya mempertahankan semua yang telah saya miliki.

Namun kelamaan, saya disadari oleh lingkungan hidup saya. Saya memang orang egois! Saya ingin merebut semua yang di mata saya dianggap baik. Saya orang yang tak pernah puas. Saya orang otoriter. Saya orang... Saya orang... Saya orang... Masih banyak lain yang membuat saya diam bahwa semua yang ada di mata saya yang baik itu tak perlu direngkuh semua.

Sebagai manusia yang normal dan ingin baik di masa depan, saya pun punya cita-cita. Puluhan cita-cita di otak. Sampai ketika seseorang bertanya pada saya, "Apa cita-citamu kelak di masa depan?" Saya sampai berpikir yang mana yang akan saya utamakan. Semua cita-cita itu adalah tujuan hidup saya. Dan semua saya utamakan.

Semakin bertambah hari, cita-cita itupun semakin berkurang. Saya ingin menjadi seorang ini. Saya ingin menjadi seorang itu. Lalu diikuti kelak saya akan membuat ini. Saya akan membuat itu. Semua adalah tujuan hidup saya nantinya.

Apakah ketika tujuan itu yang saya ambil tergapai, akankah saya menjadi seorang yang bahagia dan puas dengan semua yang telah saya peroleh? Kembali lagi ke cerita saya. Ternyata sampai di kereta, saya malah berjuang mati-matian mempertahankan kursi saya.

"Av, bagaimana tahunmu saat ini?" tanya seorang sahabat.
"Masih merealisasikan proyek-proyek."
"Hah? Masih?"
"Iya. Proyek saya terlalu banyak. Terpaksa saya kayuh satu-satu."

"Apa tujuan hidupmu, Av?"
"Hmmm... apa ya?"
"Lho kok malah balik nanya?"
"Tujuan hidup saya masih terlalu banyak."
"Banyak pijimana toh?"
"Saya ingin ini... Saya ingin itu..."

Sejak saat itu, saya mulai menekan tombol delete untuk tujuan hidup saya yang sama sekali saya tak dapat tempuh atau saya merasa menjadi beban untuk hidup saya. Perlahan, saya mulai menyadari bahwa tujuan hidup saya hanya tersisa lima. Bukan lagi puluhan. Apalagi sampai ratusan. Dan semua yang di mata saya bukan seluruhnya untuk saya ambil menjadi tujuan dan cita-cita di masa depan, melainkan hanya sepercik godaan yang baik bak seekor kutu menari di atas badan kerbau.

"Apa tujuan hidupmu, Av?"
"Sekedar menjadi seorang yang baik. Tetap menjadi seorang yang anti rokok, narkoba, dan global warming. Masih menjadikan kata-kata sebuah perlawanan untuk mereka. Membahagiakan keluarga. Dan karir yang baik."
"Bukan lagi seratus?"
"Hahaha... seratus, Mas? Itu dulu!"
"Yang sembilan puluh lima ke mana?"
"Dihapus dari daftar hidup."

Dengan demikian, tujuan hidup saya bukan menjadikan beban untuk saya melainkan sebuah motivasi pribadi bahwa itulah yang hendak saya gapai ke depannya bukan dengan mati-matian namun dengan benar. Setidaknya di perjalanan ini, ada kebahagiaan yang bisa diambil sebelum semua tujuan tercapai.

Nah, apa yang kalian tujukan pada hidup ini?



Jakarta dalam paginya, 2 Maret 2009

A A - dalam sebuah inisial