ketika segala khawatirmu membelenggu
tenanglah, G
setenang karang di lautan yang keras
ketika segala kegagalan berdiam untukmu
tersenyumlah, G
tak semua kegagalan itu sia-sia
ketika segala nestapa menunggumu
bersabarlah, G
nestapa itu mendewasakan dari luka
ketika segala kekecewaan melandamu
tertawalah, G
mungkin dunia mengajakmu bergurau
lelaplah, G
ketika di suatu masa akan ada yang lebih
lebih baik
lebih terang
lebih dari sesuatu yang kau pikirkan
lelaplah, larutlah dalam mimpi
seperti malam
Jakarta, 23 Juni 2012 | 22.40
A.A. - dalam sebuah inisial
Sabtu, 23 Juni 2012
Jumat, 22 Juni 2012
Langit di Jakarta

Picture from here
apa yang kau kenang dari kotamu itu
diam-diam lampu kota menyala
langitnya dari terang pun remang
kemudian gelap
kemudian tak lagi ada matahari
lalu orang bergegas pergi
lantas kembali pulang
diam-diam seorang karwayan belajar jatuh cinta
di tengah kemacetan
yang begitu asing di negeri lain
diam-diam seorang pengamen belajar berjuang
di tengah keterasingan
yang begitu keras dan tiada ampun
diam-diam seorang sopir belajar sabar
di tengah bah musiman
untuk lari dari keberadaan
di dalam kota yang begitu kecil
seperti sesak, di langit pun demikian
bahkan
langit di kota ini pun
terlalu sulit untuk menjadi terang lagi
kemudian
seorang pengemis kecil
yang mengiba di pinggir lampu merah
menatap tulisan
"Dirgahayu 485 DKI Jakarta"
ia pun bergetar membacanya
lirih, haru
sekaligus perih
"beginikah semua ibu?
bahkan termasuk ibukota?"
bisiknya di tengah klakson
yang memekakan telinganya
apa yang kau kenang dari kotamu itu
diam-diam lampu kota menyala
langitnya dari terang pun remang
kemudian gelap
kemudian tak lagi ada matahari
lalu orang bergegas pergi
lantas kembali pulang
diam-diam seorang karwayan belajar jatuh cinta
di tengah kemacetan
yang begitu asing di negeri lain
diam-diam seorang pengamen belajar berjuang
di tengah keterasingan
yang begitu keras dan tiada ampun
diam-diam seorang sopir belajar sabar
di tengah bah musiman
untuk lari dari keberadaan
di dalam kota yang begitu kecil
seperti sesak, di langit pun demikian
bahkan
langit di kota ini pun
terlalu sulit untuk menjadi terang lagi
kemudian
seorang pengemis kecil
yang mengiba di pinggir lampu merah
menatap tulisan
"Dirgahayu 485 DKI Jakarta"
ia pun bergetar membacanya
lirih, haru
sekaligus perih
"beginikah semua ibu?
bahkan termasuk ibukota?"
bisiknya di tengah klakson
yang memekakan telinganya
Jakarta, 22 Juni 2012 | 21.22
A.A. - dalam sebuah inisial
A.A. - dalam sebuah inisial
Selasa, 19 Juni 2012
Surat yang Tak Kunjung Usai
G,
Aku pernah menulis surat cinta. Sama seperti orang-orang yang pernah merasakan cinta. Mereka akan menuliskan apa saja, kapan saja, di mana saja. Tentang perasaan mereka yang malu-malu, tentang degup yang tak terdengar, tentang kesunyian yang begitu ramai. Tentang cinta itu sendiri.
Benar. Cinta seringkali membuat orang menjadi tidak berdaya, menjadi lebih berani sampai kepada nekat, menjadi siap untuk menghadapi segala sesuatu sampai kepada ketiadaan persiapan apa pun untuk dihadapi. Tapi cinta pula yang mengajarkan aku untuk bisa menuliskan perasaan. Menulis surat cinta.
Benar lagi. Surat cinta tak harus ditulis di atas kertas berwarna merah jambu. Tak pula perlu diberikan kecupan di penghujung tulisan. Tak perlu kata-kata romantis -yang sering kusebut picisan- dan membuatku tertawa sendiri. Seperti ada sesuatu yang tak terungkapkan di dalam kata-kata dan itulah mereka menyebutnya cinta.
Kemudian, masih banyak lagi cinta-cinta yang dimuarakan kepada angin, kepada air, dan kepada waktu. Mereka menggiring cinta itu entah ke mana, tetapi ia akan menemukan perhentiannya sendiri. Seperti kapal yang akan berlabuh, demikianlah cinta yang tiada pernah henti untuk terus dikredokan dan dimadahkan. Aku tetap dibuatnya bahagia.
Surat itu pun, tak kunjung usai. Sama seperti cinta.
G,
Surat cinta pun sama seperti cinta. Tak tahu kapan dimulai, tak tahu kapan diakhiri. Aku percaya cinta yang menuliskan kebenarannya di dalam surat-surat yang kubaktikan kepadamu. Dan aku pun selalu berdoa...
jangan pernah usai.
Jakarta, 19 Juni 2012 | 20.36
A.A. - dalam sebuah inisial
Aku pernah menulis surat cinta. Sama seperti orang-orang yang pernah merasakan cinta. Mereka akan menuliskan apa saja, kapan saja, di mana saja. Tentang perasaan mereka yang malu-malu, tentang degup yang tak terdengar, tentang kesunyian yang begitu ramai. Tentang cinta itu sendiri.
Benar. Cinta seringkali membuat orang menjadi tidak berdaya, menjadi lebih berani sampai kepada nekat, menjadi siap untuk menghadapi segala sesuatu sampai kepada ketiadaan persiapan apa pun untuk dihadapi. Tapi cinta pula yang mengajarkan aku untuk bisa menuliskan perasaan. Menulis surat cinta.
Benar lagi. Surat cinta tak harus ditulis di atas kertas berwarna merah jambu. Tak pula perlu diberikan kecupan di penghujung tulisan. Tak perlu kata-kata romantis -yang sering kusebut picisan- dan membuatku tertawa sendiri. Seperti ada sesuatu yang tak terungkapkan di dalam kata-kata dan itulah mereka menyebutnya cinta.
Kemudian, masih banyak lagi cinta-cinta yang dimuarakan kepada angin, kepada air, dan kepada waktu. Mereka menggiring cinta itu entah ke mana, tetapi ia akan menemukan perhentiannya sendiri. Seperti kapal yang akan berlabuh, demikianlah cinta yang tiada pernah henti untuk terus dikredokan dan dimadahkan. Aku tetap dibuatnya bahagia.
Surat itu pun, tak kunjung usai. Sama seperti cinta.
G,
Surat cinta pun sama seperti cinta. Tak tahu kapan dimulai, tak tahu kapan diakhiri. Aku percaya cinta yang menuliskan kebenarannya di dalam surat-surat yang kubaktikan kepadamu. Dan aku pun selalu berdoa...
jangan pernah usai.
Jakarta, 19 Juni 2012 | 20.36
A.A. - dalam sebuah inisial
Langganan:
Postingan (Atom)