Selasa, 12 Juni 2012

Do What You Love, Love What You Do

Bekerja, bagi saya, adalah sebuah kesempatan untuk memaknai kehidupan sekecil apa pun itu. Bahkan, kebahagiaan pun dapat bersumber dari apa yang saya lakukan pada saat ini, pada waktu saya bekerja, atau hal-hal remeh yang sering dianggap orang sebagai kutukan atau beban yang harus dipikulnya.

Bekerja adalah momen untuk menangkap momen keindahan seminimal apa pun. Untuk saya, bekerja pun bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Tanpa pernah bisa diduga, kadang pula tanpa bisa direncanakan, atau bisa saja di dalam kondisi yang tidak diharapkan untuk bekerja.

Setidaknya saya adalah salah satu manusia yang paling berbahagia di dunia ini. Meskipun saya bekerja, sesungguhnya saya pun tidak merasakan apa yang dinamakan oleh orang-orang sebagai beban atau keterpaksaan. Saya bekerja atas dasar saya mencintai apa yang saya kerjakan, apa yang saya lakukan. Dengan demikian, saya pun sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Confucius bahwa dengan mencari pekerjaan yang sesuai dengan hatimu, engkau tidak akan pernah merasakan bekerja.

Itulah saya. Saya pun tidak merasakan bagaimana beban bekerja, malah sebaliknya, saya menganggapnya itu sebagai wahana permainan yang menyenangkan. Wahana di mana saya bisa bebas berpikir dan bertindak. Bebas untuk membebaskan diri sendiri.

Kalau ditanya, di mana saya bekerja, saya sendiri pun sering merasa kesulitan untuk menjawabnya. Pekerjaan saya hanya butuh media untuk menulis dan kebebasan untuk berpikir. Saya sering bekerja ketika sedang menunggu jam masuk kuliah, di restoran, di dalam mobil travel, atau sedang menunggu jadwal rapat. Saya pernah diharuskan membuat esai di tengah seminar sedang berlangsung. Atau saya pun pernah dikontak tengah malam di saat baru tiba di bandara untuk mengirimkan materi presentasi.

Semua itu saya lakukan tanpa beban. Saya melakukannya dengan cinta karena dengan berbagai alasan yang membuat saya mencintai pekerjaan saya. Tanpa perlu saya mengeluh, tapa perlu merasa tersiksa, dan saya pun melakukan sesuatu yang belum tentu orang lain dapat melakukannya: mencintai apa yang mereka lakukan, melakukan apa yang mereka cintai.

Tabik!



Jakarta, 12 Juni 2012 | 16.10
A.A. - dalma sebuah inisial

Minggu, 10 Juni 2012

Menjelang Pagi

G,
apa doa yang lebih baik daripada mendoakan mereka yang selalu kita kasihi? aku selalu memilih untuk mendoakan untuk kehidupan yang lebih bijaksana. aku selalu berdoa agar aku dan mereka yang kukasihi selalu siap untuk menghadapi hari, bukan lagi berdoa agar hari-hari yang memeluk setiap kita.

G,
apa ada pagi yang lebih baik daripada melihat mereka yang kita kasihi sedang terbangun? aku selalu menunggu pagi utuh agar mereka yang selalu kita kasihi bangun di dalam bahagianya, menceritakan mimpinya semalam. aku selalu menunggu matahari datang di mana harapan itu ikut terbit bersamanya.

G,
apa ada cerita yang tidak bisa membuatmu kembali menjadi manusia yang bahagia? aku menanti kabarmu yang paling baik di setiap pagi dan cerita sepanjang hari akan segera dimulai. aku ingin menjadi waktu di mana kamu tidak lagi dapat menghindari aku. kita sama-sama berjalan. kita ada di dalam dimensi yang seirama.

G,
pagi sedang aku tunggu. tepatnya menunggu harapan. menunggu seseorang yang akan bangun dan menceritakan mimpinya.



Jakarta, 11 Juni 2012 | 00.56
A.A. - dalam sebuah inisial

Sabtu, 02 Juni 2012

Lebih dari Hujan Bulan Juni

:Sapardi Djoko Damono


sesungguhnya ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
ia tak merahasiakan rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

sesungguhnya ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
ia tak menghapus jejak-jejak kakinya
ia tak ragu di jalan itu

sesungguhnya ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
tak dibiarkannya yang tak terucapkan
tak terserap akar pohon bunga itu






Jakarta, 2 Juni 2012 | 08.28
A.A. - dalam sebuah inisial