Ditemani Enya yang terus bersuara
Tanpa secangkir kopi yang masih hangat
Menepislah dia dari sisi kita
Ah, segelas susu lebih baik sebagai sobatmu
Menjelang kau terlelap malam ini
Setelah kita lelah seharian terus berkelana
Berlari ke sana ke mari bagai hendak perang
Bergegas seperti paramedik yang dinantikan
Aku tahu kau terlalu lelah untuk hari ini
Maka selimut telah kubentangkan
Seprai telah kuganti dengan bersih
Malam juga sudah datang lagi
Lepaskan rokokmu dan matikanlah
Bentangkanlah ragamu atas ranjang
Bukankah hari esok juga masih ada
Untuk apa kau pikirkan pekerjaanmu
Lupakanlah malam minggu pada hari ini
Untuk apa kau temani aku kalau kau lelah
Teguklah segelas susu
Kutemani kau dalam temaram gelap ini
Berselimut dinginnya hari
Untuk pamit dari bumi ini
Sejenak saja!
6 Juni 2009 | 19.59
Sabtu, 06 Juni 2009
Jumat, 05 Juni 2009
Kejahatan? Jadilah Dirimu!
Sepertinya jawabanku melalui YM tadi, tak dapat memuaskan aku sendiri. Aku masih kecewa dengan jawabaku sendiri. (Duh! Jawabannya mungkin tak nyaman ketika aku menulisnya langsung di YM) Maka lebih baik kujadikan saja sebuah halaman yang memang kudedikasikan kepadamu. Apa susahnya menjawab pertanyaanmu? Mungkin karena YM bukanlah wadah yang dapat menempatkan aku untuk menjawab pertanyaanmu.
Sejujurnya, aku sendiri sontak kaget membaca pertanyaan seorang kawan di YM tadi. Bisa-bisanya dia bertanya kepadaku tentang hal itu. Aku juga belum mengenalnya lama. Hei... Kita butuh sesuatu lebih lama untuk menjadi diri kita sendiri. Katakanlah apa adanya, jangan dipendam!
Kawan, sejatinya kukatakan kepadamu, menjadi orang baik itu memang mudah. Tetapi ada yang lebih mudah lagi daripada menjadi orang baik, menjadi orang jahat. Nah, adakah orang yang ingin menjadi orang jahat? Kukatakan tak ada selain karena terpaksa. Kita punya kebutuhan masing-masing dan kita pula saling membutuhkan masing-masing. Tetapi itu semua kembali lagi tergantung intensitas kebutuhan, sejauh mana kita membutuhkan kawan kita dan sebagai apa kita membutuhkannya.
Untuk pertanyaan dirimu, mengapa ketika kita ingin menjadi baik ternyata sekitar kita jahat?, inilah jawabannya.
Terkadang kita terlalu merespon lingkungan kita secara terlalu berlebihan. Dan hal yang berlebihan itu yang dapat mengoyakkan hati kita sendiri sebenarnya. Seperti air, kalau sedikit, bisa kita manfaatkan, kalau sudah melimpah ruah, banjir harus kita alami. Sebenarnya itu juga kembali kepada diri kita. Respon yang jahat biarlah kita balas dengan kebaikan. Apa salahnya toh? Katanya supaya ada bekal masuk surga. Hehehe...
Tak ada salahnya ketika dalam situasi seperti ini kita butuh intropeksi diri. Itu sebagai meditasi pribadi yang tak pernah diketahui oleh orang banyak. Belajar dari pengalaman juga diperlukan. Soal memanfaatkan teman semacam itu, kuncinya adalah perelaan. Tiada jawaban yang lebih baik -menurutku- daripada perelaan itu sendiri. Toh, kalau seorang ibu yang ingin melahirkan anaknya tidak rela ketika rahimnya dilewati oleh sang anak, ibunya juga akan meninggal, bukan? Nah, kawan, seperti itulah jawabanku kepadamu. Relakan saja apa yang sudah kita berikan lagipula masih banyak sesuatu yang lebih yang dapat kita lakukan.
Halaman ini kuakhiri saja. Daripada kau pusing sendiri dengan jawabanku yang lebih panjang daripada pertanyaanmu.
Jakarta, 5 Juni 2009 | 4.24
Sahabatmu selalu,
A.A.
Selasa, 02 Juni 2009
Catatan 24
Kita punya mimpi, dan mimpi itu akan menjadi cita
Kita punya cita, dan cita itu akan menjadi tugas
Kita punya tugas, dan tugas itu akan menjadi nyata
Kita punya cita, dan cita itu akan menjadi tugas
Kita punya tugas, dan tugas itu akan menjadi nyata
Langganan:
Postingan (Atom)